psikologi nostalgia tempat lama
mengapa kita ingin mengunjungi sekolah atau rumah masa kecil
Pernahkah kita tiba-tiba mengambil rute memutar hanya untuk melewati depan gerbang sekolah kita yang dulu? Atau sengaja melambat saat menyetir melewati kompleks rumah masa kecil kita? Kita tahu betul bangunannya mungkin sudah berubah warna. Pagar besi yang dulu sering kita panjati mungkin sudah diganti baja ringan oleh pemilik barunya. Tapi entah kenapa, dorongan untuk sekadar menatapnya begitu kuat. Tiba-tiba ada desir hangat di dada, campur aduk dengan sedikit rasa sesak yang aneh. Kenapa susunan batu bata, semen, dan aspal ini punya kendali sebesar itu atas emosi kita? Mari kita bedah bersama fenomena yang sering kita anggap sepele ini.
Ratusan tahun lalu, apa yang kita rasakan di depan rumah lama ini sebenarnya dianggap sebagai penyakit medis. Serius. Pada akhir abad ke-17, seorang dokter militer Swiss bernama Johannes Hofer menciptakan istilah nostalgia. Kata ini diracik dari bahasa Yunani, yaitu nostos yang berarti pulang, dan algos yang berarti rasa sakit. Dulu, tentara yang murung karena rindu kampung halaman dianggap menderita kelainan neurologis yang butuh intervensi medis. Sekarang, sains modern tentu memandang nostalgia dengan cara yang jauh lebih elegan. Dalam psikologi lingkungan, ada konsep yang disebut place attachment atau kelekatan tempat. Kita akhirnya menyadari bahwa manusia tidak hanya menjalin hubungan emosional dengan sesama manusia, tapi juga dengan koordinat geografis. Namun, ada satu hal yang sering kali terasa ganjil. Saat kita akhirnya benar-benar turun dari kendaraan dan berdiri di halaman sekolah atau rumah lama itu, sensasi yang datang sering kali di luar ekspektasi kita.
Sensasi ganjil itu biasanya muncul dalam bentuk pikiran seperti: "Loh, kok halamannya ternyata sempit ya?" atau "Perasaan dulu lorong kelas ini panjang dan besar sekali." Mengapa persepsi fisik kita bisa meleset sejauh itu? Di sinilah otak kita mulai bermain sulap. Saat kita kembali ke tempat yang penuh kenangan, ada dua bagian otak yang tiba-tiba bekerja lembur: hippocampus sebagai pusat arsip memori, dan amygdala sebagai pabrik emosi. Begitu hidung kita menangkap bau khas dari tanah basah di pekarangan tua itu, otak memicu reaksi berantai. Kita tidak sekadar mengingat; secara neurologis, kita sedang merasakan ulang masa lalu. Tetapi ini memunculkan sebuah teka-teki baru. Jika otak kita menyimpan kenangan itu dengan begitu detail dan emosional, mengapa realitas fisik tempat itu di masa kini sering kali terasa asing, atau bahkan sedikit mengecewakan? Apa sebenarnya yang sedang mati-matian dicari oleh otak kita di tempat ini?
Jawabannya mungkin akan sedikit menampar ego kita. Secara ilmiah, saat kita mengunjungi rumah masa kecil atau sekolah lama, kita sebenarnya sama sekali tidak sedang merindukan bangunan tersebut. Kita sedang merindukan siapa diri kita saat kita berada di sana. Otak manusia itu brilian, tapi ia butuh jangkar. Karena kita tidak mungkin bisa memeluk waktu yang sudah berlalu, otak menggunakan ruang fisik sebagai external hard drive bagi identitas kita. Ketika kita menatap pohon mangga di sudut sekolah, kita sebenarnya sedang mencoba mengunduh kembali versi diri kita yang masih bebas dari tanggung jawab orang dewasa, bebas dari patah hati yang rumit, dan penuh dengan harapan masa depan. Rasa "sempit" yang kita rasakan tadi membuktikan bahwa sains tentang reconstructive memory itu nyata. Memori kita bukanlah rekaman video yang objektif, melainkan cerita yang diedit ulang terus-menerus oleh otak. Kita dulu melihat tempat itu dengan tubuh dan kacamata seorang anak kecil. Nostalgia memanipulasi tempat tersebut agar terasa jauh lebih magis dan aman daripada realitas aslinya.
Jadi, merasa melankolis dan sedikit kehilangan saat melihat rumah lama yang kini dihuni orang tak dikenal adalah reaksi yang amat sangat manusiawi. Para pakar psikologi modern sepakat bahwa nostalgia bukanlah tanda bahwa kita gagal move on. Sebaliknya, nostalgia adalah sebuah existential buffer atau pelindung psikologis kita. Saat hidup di masa kini terasa terlalu berat, penuh tekanan kerja, atau dipenuhi ketidakpastian, otak kita secara otomatis mencari suaka ke tempat di mana kita pernah merasa paling aman dan utuh. Teman-teman, jika akhir pekan ini ada dorongan tiba-tiba untuk menyetir melewati sekolah lama atau rumah masa kecil, ikuti saja. Nikmati perjalanan emosionalnya. Beri senyuman pada pagar berkarat yang mungkin sudah berganti warna itu. Ucapkan terima kasih pada tempat tersebut di dalam hati. Karena tanpa batu bata dan memori yang menyusunnya di masa lalu, kita tidak akan pernah menjadi manusia yang sekuat dan setangguh hari ini.